Senin, 06 Desember 2010

Ilmu Tanah , Pemupukan & Kesuburan Perairan

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tanah adalah lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran penopang tegak tumbuhnya tanaman dan menyuplai kebutuhan air dan udara; secara kimiawi berfungsi sebagai gudang dan penyuplai hara atau nutrisi (senyawa organik dan anorganik sederhana dan unsur-unsur essensial seperti : N, P, K, Ca, Mg, S, Cu, Zn, Fe, Mn, B, CI) ; dan secara biologi berfungsi sebagai habitat biota (organisme) yang berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat adiktif (pemicu tubuh, proteksi) bagi tanaman, yang ketiganya secara integral mampu menunjang produktivitas tanah untuk menghasilkan biomas dan produksi baik tanaman pangan, tanaman obat-obatan, industri perkebunan, maupun perkebunan (Madjid, 2009).

Struktur tanah yang berongga-rongga juga menjadi tempat yang baik bagi akar untuk bernapas dan tumbuh. Tanah juga menjadi habitat hidup sebagai mikroorganisme. Bagi sebagian besar hesan darat, tanah menjadi lahan untuk dan bergerak. (Paryoto, 2010).

1.2 Maksud Dan Tujuan

1.2.1 Maksud

Maksud dari praktikum ilmu tanah, pemupukan, dan kesuburan tentang pengambilan contoh-contoh utuh, pengambilan contoh tanah biasa, penentuan tekstur tanah dengan perasaan, pengambilan contoh tanah secara sederhana dan penentuan pH tanah adalah mengetahui contoh tanah dan mengerti cara menentukan pH tanah.

1.2.2 Tujuan

Tujuan dari praktikum ilmu tanah, pemupukan, dan kesuburan tentang materi pengambilan contoh tanah secara sederhana dan penentuan tanah dengan perasaan, pengambilan contoh tanah secara sederhana dan penentuan pH tanah adalah agar memahami proses pengambilan contoh tanah dan memahami dalam menentukan pH tanah.

1.3 Waktu Dan Tempat

Praktikum ini dilakukan pada jumat, tanggal 22 oktober 2010 pada pukul 07.00 – 11.00 WIB dan pada minggu 24 oktober 2010 pukul 14.00-17.00 WIB di Laboratoriuk Stasiun Percobaan Budidaya Air Tawar, desa Sumberpasir, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.

Praktikum ilmu tanah dengan materi pemupukan tanah, konsistensi tanah, penentuan bobot isi dan bobot jenis dan kapasitas tanah dilaksanakan pada tanggal 24 oktober 2010 pukul 07.00 – 16.00 WIB di stasiun Percobaan air tawar sumber pasir, malang selatan.

Praktikum ilmu tanah dengan materi pengamatan harian kualitas air dan kelimpahan plankton dilaksanakan pada tanggal 17 oktober 2010 pukul 07.00 – 11.00 WIB di stasiun Percobaan Air Tawar sumber pasir,Kabupaten Malang.

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanah

2.1.1 Pengertian Tanah

Tanah adalah bahan mineral yang tidak padat (unconsolidated) terletak di permukaan bumi, yang telah akan tetap mengalami perlakuan dan dipengaruhi oleh faktor-faktor genetik dan lingkungan yang meliputi bahan-bahan induk, iklim (termasuk kelembaban dan suhu) (Hanafiah, 2009).

Tanah merupakan hasil transformasi zat-zat mineral dan organik di muka daratan bumi. Tanah terbentuk di bawah pengaruh faktor-faktor lingkungan yang bekerja dalam masa yang sangat panjang. Tanah mempunyai organisasi dan morfologi. Tnah merupakan media bagi tumbuhan tingkat tinggi dan pangkalan hidup bagi hewan dan manusia. Tanah merupakan sistem ruang waktu, bermatra empat (Sutanto, 2005).

2.1.2 Proses Pembekuan Tanah

Proses pembukuan tanah dimulai dari proses pelapukan bahan induk menjadi bahan induk tanah, diikuti oleh proses pencampuran bahan organik dengan bahan mineral dipertukaran tanah, permukaan struktur tanah, pemindahan bahan-bahan tanah ke bagian bawah dan berbagai proses lain yang dapat menghasilkan horizon-horizon tanah (hardjowigeno, 2007).

Menurut Hardjowigeno (2007), proses pelapukan mencakup beberapa hal yaitu pelapukan secara fisik, biologik dan kimia.

o Pelapukan secara fisik yang terpenting adalah akibat naik turunya suhu dan perbedaan kemampuan memuai (mengembang) dan mengerat dari amsing-masing mineral akibat perubahan suhu mengembang dan mengerut dengan kekuatan yang berbeda-beda maka batuan menjadi rapuh dan mudah hancur.

o Palapukan secara biologik, mekanik, akar-akar yang masih di dalam bahan melalui retakan-retakan batuan dapat terus berkembang dengan kekuatan-kekuatan yang sangat tinggi sehingga dapat menghancurkan batuan tersebut.

o Pelapukan secara kimia

- Hidrasi dan dehidrasi ; hidrasi (hidration) reaksi kimia dimana molekul air terikat oleh senyawa-senyawa tertentu sedangkan dehidrasi adalah hilangnya molekul air dan senyawa-senyawa tersebut.

- Oksidasi dan reduksi. Oksidasi adalah suatu proses dimana elektron atau muatan listrik negatif menjadi berkurang sedangkan reduksi berarti penambahan elektron

- Hidrolisis : terjadi karena adanya pergantian kation-kation dalam struktur Kristal oleh hydrogen sehingga struktur Kristal rusak dan hancur

- Pelarutan (solection) : pelarut terjadi pada gatam-garam sederhana seperti karbonat, klorida dan lain-lain.

2.1.3 Jenis-jenis Tanah

Menurut Syadiasho (2008), macam / jenis tanah di Indonesia yaitu :

1) Tanah khusus

Tanah yang sangat subur terbentuk dari pelapukan daun dan batang pohon dari hutan tropis yang lebat

2) Tanah pasir

Tanah yang terbentuk dari lumpur sungai yang mengendapi daratan rendah yang memiliki sifat tanah yang subur dan cocok untuk lahan pertanian

3) Tanah Alluvial / endapan

Tanah terbentuk dari lumpur sungai yang mengendapi di daratan rendah yang memiliki sifat tanah yang subur dan cocok untuk lahan pertanian

4) Tanah podzolit

Tanah subur yang umumnya berada di pegunungan dengan curah hujan yang tinggi dan suhu rendah / dingin

5) Tanah vulkanik

Tanah yang terbentuk dari lapukan materi larutan gunung merapi yang subur mengandung zat hara yang tinggi

6) Tanah laterit

Tanah yang tidak subur yang kaya akan unsure hara, namun unsur hara tersebut hilang karena larut dibawa oleh air hujan yang tinggi.

7) Tanah kapur

Tanah yang bersifat tidak subur yang terbentuk dari pelapukan batuan yang kapur

8) Tanah gambut / orgonosol

Jenis tanah yang kurang subur untuk bercocok tanam yang merupakan hasil bentukan pelapukan tumbuhan rawa.

2.1.4 Fungsi Tanah

Menurut Sunarmi, dkk (2006) dalam hubungannya dengan pertanian, tanah mempunyai peranan antara lain :

- Tanah sebagai tempat atau media tumbuh tanaman

- Tanah sebagai gudang unsure hara tanaman

- Tanah sebagai penyedia air bagi tanaman

Menurut Madjid (2009), fungsi tanah adalah :

- Berupa tumbuh dan berkembangnya perakatan

- Penyedia kebutuhan primer tanaman (air, udara, dan unsure-unsur hara)

- Penyedia kebutuhan sekunder tanaman (zat-zat pemacu tumbuh: hormone, vitamin dan asam-asam organic, anti biotic dan tekanan totsik, anti hama, enzim yang dapat meningkatkan ketersediaan tanah)

- Sebagai habitat biota tanah baik yang dampak positif karena terlibat langsung atau tidak langsung dalam penyediaan kebutuhan primer dan sekunder tanaman tersebut, maupun yang berdampak negative karena merupakan hama dan penyakit tanaman.

2.2 Pengambilan Contoh Tanah

2.2.1 Pengertian Pengambilan Contoh Tanah

Contoh-contoh tanah diambil dari lapangan kemudian dianalisis dilaboratorium terhadap pH, kapasitas, tukar kation Ca, Mg, k,Na,N,F kebutuhan organik tekstur dan sebagainya sehingga diketahui kadar unsur hara tersebut di dalam tanah (hardjowigeno, 2007)

Menurut Husen (2004) pengambilan contoh tanah dapat dilakukan secara komposit sistematis (proporsional) dan random (non profesional) tergantung pada bagian dan sasaran yang ingin dicapai.

2.2.2 Macam-Macam Pengambilan Contoh Tanah

Menurut Wiji (2009), pengambilan contoh tanah untuk analisis fisik tanah diperlukan tiga macam contoh tanah, yaitu :

1) Contoh Tanah utuh untuk penetapan-penetapan kepadatan lembek, susunan pori tanah, pH, dan permeabilitas

2) Contoh tanah dengan agregat utuh penetapan kemantapan agregat dari nilai cole

3) Contoh tanah biasa atau contoh tanah terganggu untuk penetapan, penetapan kadar air, tekstur dan konsistensi

Menurut Jacob (2001), contoh tanah yang diambil dapat berbentuk contoh tanah terganggu (undistrub soil sample). Contoh tanah isi, peritas dan permeabilitas tanah sedangkan untuk tanah (bobot diperlukan untuk analisis sifat kimia tanah dan sifat fisik tanah lainnya) (tekstur, kadar air, tanah liat).

2.2.3 Faktor Yang Mempengaruhi Pengambilan Contoh Tanah

Adapun faktor yang mempengaruhi pengambilan contoh tanah terbentuk seperti, sebagai hasil proses, perkembangan dan pengaruh dari lima faktor utama antara lain adalah bahan individual, iklim, organisme, topografi, dan waktu (Sunarmi, dkk. 2006)

Menurut sito (2009), prinsip yang harus diperhatikan dalam uji tanah ialah bahwa metode analisa tersebut :

- Harus dapat mengekseruasi unsur hara yang tersedia saja secara tepat, jadi sifatnya selektif waktunya sudah mengekseruasi bentuk yang tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman.

- Metode analisa yang dipakai di laboratorium harus sederhana, cepat, mudah dilaksanakan dan memiliki lipatan dan ketelitian tinggi.

2.3 Penentuan Tekstur Tanah

2.3.1 Pengertian Tekstur Tanah

Tekstur tanah menunjukkan komposisi partikel penyusun tanah (separat) yang dinyatakan sebagai perbandingan proporsi (%) relatif antara fraksi pasir (sand) (berdiameter 2.00 – 0.20 mm atau 2000 – 200 mm, debu (silt) (berdiameter 0.20 – 0.002 mm atau 200- 2 mm) dan liat (olay) (Hanafiah, 2009).

Tekstur tanah menunjukkan kasar halusnya tanah dari fraksi tanah (<>o, 2007).

2.3.2 Macam-Macam Tekstur Tanah

Tanah-tanah yang bertekstur pasir, karena butir-butirannya berukuran lebih besar, maka setiap satuan berat (misalnya setiap gram) mempunyai luas permukaan yang lebih kecil sehingga sulit menyerap (menahan) air dan unsur hara. Tanah-tanah bertekstur liat, karena lebih halus maka setiap satuan berat mempunyai luas permukaan yang lebih besar sehingga kemampuan menahan air dan menyediakan unsur hara tinggi. Tanah bertekstur halus lebih aktif dalam reaksi kimia dari pada tanah bertekstur kasar. (Hardjowigeno, 2007)

Menurut Hanafiah (2007), berdasarkan kelas teksturnya maka tanah digolongkan menjadi :

a. Tanah bertekstur kasar atau tanah berpasir berarti tanah yang mengandung mineral 70 % pasir atau bertekstur pasir atau pasir berlempung (3 macam)

b. Tanah bertekstur sedang atau tanah berlempung, terdiri dari :

(1) Tanah bertekstur sedang tetapi agak kasar meliputi tanah yang bertekstur lempung berpasir (sandy loam) atau lempung berpasir halus (2 macam)

(2) Tanah bertekstur sedang meliputi yang bertekstur lempung berpasir sangat halus, lempung (loam), lempung berdebu (silty loam) atau debu (silt) (4 macam) dan

(3) Tanah bertekstur sedang tetapi agak halus mencakup lempung liat (slay loam), lempung liat berpasir (sandy, clay loam) atau lempung liat berdebu (sandy silt loam) (3 macam)

2.3.3 Faktor Yang Mempengaruhi Tekstur Tanah

Di samping mengetahui kelas tekstur dapat pula diketahui faktor yang mempengaruhi tekstur tanah antara lain : sifat-sifat fisika tanah yang lain seperti porositas, daya tahan terhadap air, ketersediaan air, mudah tidaknya diolah, laju ketepatan infilotrasi konsistensi, kandungan unsur hara maupun menentukan jumlah kebutuhan air (Sunarmi dkk, 2006 ).

Menurut Boul et al (1960) dalam Jumriati (2010), faktor yang mempengaruhi proses pembentukan tanah tetapi hanya ada 5 faktor yang dianggap paling penting (Boul, et al, 1980) yaitu (1) iklim, (2) organisme, (3) bahan induksi (4) topografi, dan (5) waktu.

2.3.4 Fungsi Parameter Tekstur Tanah

Tekstur tanah menunjukkan kasar halusnya tanah. Secara kualitas bahwa tekstur dapat menggambarkan bahwa pokok bahan tanah tersebut kasar atau halus, hal ini dapat dirasakan dengan mengambil sedikit tanah basah diantara jari dan ibu jari. Jika ternyata terasa agak halus dan licin maka menunjukkan bahwa tanah tersebut kandungan liatnya relatif cukup tinggi dan jika terasa kasar maka kandungan pasirnya cukup tinggi. Pengamatan berpengalaman (Sunarmi dkk, 2006).

Menurut situs resmi pemerintah balikpapan (2009), tekstur tanah dapat menentukan fase air dalam tanah berupa ketepatan filtrasi. Penetrasi dan kemampuan pengikat / sedimentasi oleh air tanah, apabila tekstur tanah baku maka sulit meloloskan air, apabila tekstur tanah kasar akan mudah meloloskan air.

2.4 Struktur Tanah

2.4.1 Pengertian Struktur Tanah

Struktur tanah adalah penyusunan antar partikel tanah primer (bahan minearl) dan bahan organic sertaa oksida, membentuk agregat sekunder. Gatra agregat tanah meliputi padatan dan pori tanah (Sutanto, 2006)

Apabila tekstur mencerminkan ukuran partikel dari fraksi – fraksi tanah, maka struktur merupakan penampakkan bentuk atau susunan partikel-partikel primer tanah (pasir, debu dan liat individual) hingga partikel-partikel sekunder (gabungan partikel-partikel primer yang disebut ped (pengumpalan)) yang membentuk agregat (bungkah) (Hanafiah, 2009)

2.4.2 Macam-Macam Struktur Tanah

Tanah yang partikel-partikelnya belum bergabung, terutama yang bertekstur pasir, disebut tanpa struktur atau berstruktur lepas, sedangkan tanah bertekstur liat, yang terlihat passif (padu tanpa ruang pori yang lembek jika basah dank eras jika kering) atau apabila dilumat dengan air membentuk disebut juga tanpa struktur (Hanafiah, 2009)

Struktur tanag adalah penyusunan antara partikel tanah primer (bahan primer / bahan mineral) dan bahan organic serta oksidasi membentuk agregat sekunder. (ratra agregat tanah meliputi bahan padatan dan pori tanah) (Sutanto, 2005).

2.4.3 Faktor Yang Mempengaruhi Struktur Tanah

Menurut Susanto (2005) factor yang mempengaruhi pembentukkan struktur , yaitu :

a. Koagulasi dan peptiso

Koloid tanah baik mineral (mineral lempung, oksida, hidroksida) atau senyawa organic (humin dan koloid hasil proses humifikasi seperti polisakarida dan polikronida) dengan adanya air kemungkinan akan membentuk bahan (pendispersi atau peptisasi) atau gel (flokulasi atau kaugulasi).

b. Pengerutan dan pengembangan

Pembasahan dan pengeringan yang terjadi secara cepat berakibat langsung pada proses pengerutan dan pengembangan tanah sehingg terjadi retakan tanah.

c. Pembekuan

Seperti halnya pelapukan fisik yang terjadi pada bahan, tanah apedal / pejal, ped dan fragmen akan pecah karena air yang mengalami peningkatan volume (+ 9%)

d. Organisme tanah

Struktur remah terutama terbentuk pada tanah dengan kandungan bahan organic dan aktivitas biologis tinggi. Bahan mineral dan bahan organic berkaitan satu dengan yang lain karena gaya adhesi, adanya hifa fungsi dan koloni bakteri, pencampuran tanah dan hasil ekskresi fauna tanah, satu pengaruh agregasi ekskresi dan akar gambut tanaman tingkat tinggi. Berarti struktur remah yang hetergogen dan stabil akan berbentuk karena kegiatan organism tanah.

Menurut Hadayanti dan Hairiah (2007) agregasi tanah dan struktur tanah merupakan sifat tanah yang penting karena mempengaruhi produktifitas tanah walaupun factor abiotik seperti bahan induk, iklim, penyusun tanah, dan kation-kation terserap (misalnya Na+ yang cenerung mendispesi partikel tanah), meruakan parameter penting dalam pembentukan agregat tanah, factor biotic juga berperan dalam agregasi tanah. Bahan organic di dalam agregat pada dasarnya berasal dari organism (galaktose, manase, glukose) dan tanaman (Xylose, erabinase).

Tanah bertekstur liat mempunyai luas permukaan yang lebih besar sehingga kemampuan menahan air dan menyediakan unsure hara tinggi. Tanah bertekstur halus lebih aktif dalam reaksi kimia dari pada tanag bertekstur kasar. Tanah bertekstur pasir mempunyai luas permukaan yang lebih kecil sehingga sulit menyerap (menahan) air dan unsure hara (Untan, 2008).

2.5 Penentuan pH Tanah

2.5.1 Pengertian pH tanah

Menurut Hanafiah (2005), nilai pH tanah dapat digunakan sebagai indicator kesuburan kimiawi tanah, karena dapat mencerminkan ketersediaan hara dalam tanah tersebut. pH optimum untuk ketersediaan hara dalam tanah adalah sekitar 70 % karena pada pH ini semua unsure makro tersedia secara maksimal sedangkan unsure hara mikro tidak maksinal kecuali Mo. Sehingga kemungkinan terjadi toksisitas unsure mikro terbentuk.

Menurut Suyanto (1984), keasaman (pH) tanah dapat mempengaruhi pH air, sleanjutnya pH itu mempengaruhi kehidupan organism – organism yang ada dalam air.

2.5.2 Macam pH Tanah

Menurut Susanto (2005) pada umumnya keasaman tanah dibedakan atas usaha, netral, dan basa. Ion dihasilkan oleh kelompok organic yang dibedakan atas kelompok karboksil r-cooh dan kelompok fenol r-oh, H2CO3, hidrat F(3T), oksidasi senyawa s atau penggunaan pupuk yang bereaksi asam (supifosfat, ammonium sulfat).

Menurut Suyanto (1984), macam-macam pH tanah diantarannya adalah tambak yang produktif menunjukkan angka pH tinggi (alkalis). Tanah tambak yang bersifat alkalis kaya akan garam-garam natrium menyebabkan pertumbuhan sikap menjadi baik. Tanah yang bersifat asam, biasnaya terjadi pada tanah yang mengandung banyak bahan organic yang sedang membusuk.

2.5.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi pH Tanah

Keasaman tanah disebabkan oleh ion Ht yang dihasilkan pada tanah nitrat dipengaruhi oleh kandungan kation dalam bahan induk. Kation-kation dilepaskan pada saat terjdi pelapukan dan KTK dari koloid tanah dijenuhi oleh kation sampau konsentrasi tertentu. Factor lain seperti iklim perkembangan tanah dan lain-lainnya juga akan berpengaruh pada pH tanah (Sutanto, 2005).

Factor-faktor lain yang kadang kita mempengaruhi pH tanah terutama didaerah industry antara lain adalah sulfur yang merupakan hasil sampinga dari insutri gas, yang jika bereaksi dengan air akan menghasilkan asam sulfur, dan asam nitrat yangs ecara alami merupakan komponen fotik air hujan (hujan asam juga terjadi sebagai akibat meningkatnya dan pembongkaran fosil – fosil padat yang menimbulkan gas-gas dan nitrogen juga kemudian bereaksi dengan air hujan) (Hanafiah, 2005).

2.5.4 Faktor Yang Mempengaruhi pH Tanah

Menurut Nawawi (2001), factor yang mempengaruhi penetapan pH tanah antara lain :

1) Perbandingan air dengan tanah

2) Kandungan garam-garam dalam larutan tanah

3) Keseimbangan CO2 udara dengan CO2 tanah

Web master (2004), pH tanah dapat dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu bahan induk tanah, pengendapan vegetasi alami, pertumbuhan alami tanaman, kedalaman tanah dan pupuk hydrogen.

2.5.5 Fungsi Penentuan pH Tanah

Reaksi pH tanah dipakai sebagai ukuran bagi kemasaman tanah, kemasaman aktif (real), dan kemasaman potensial (cadangan). Penetapan pH tanah merupakan hal yang pentinf dalam analisis tanah. Masalah pokok dalam pengukuran pH tanah bukan menunjukkan pH tanah itu masam atau basa, akan tetapi merupakan salah satu fktor yang dapat mempengaruhi unsure hara bagi tanaman (Nawawi, 2001).

Menurut Purwohadiyanto (2006), dalam membuat tembak kualitas air dan tanah menjadi sangat penting untuk diperhatikan secara cermat, salah satu diantarannya adalah reaksi tanah, disini pH merupakan parameter derajat keasaman. Reaksi tanah yang akan digunakan untuk membuat tambak harus netral atau basa, maka pH tanah dan air harus selalu dipantau karena pH dapat berubah oleh berbagai sebab.

2.6 Penentuan Bobot Isi

2.6.1 Pengertian Bobot Isi

Menurut Hanafiah (2009), ketepatan massa (bobot isi / Bj),a dalah bobot massa tanah kondisi yang dikering anginkan per satian volume, nilai kerapatan masa tanah, berbanding lurus dengan tingkat kesuburan partikel – partikel tanah, makin besar akan makin berat.

Menurut Sunarmi dkk, (2004), bobot isi adalah bobot kering suatu unit volume tanah dalam keadaan utuh (gr/cm3). Unit volume yang bersisi bahan padat dan volume ruangan diantarannya bobot isi ditentukan oleh jumlah ruang pori dan padatan tanah. Semakin besar jumlah ruang pori tanah, semakin kecil bobot isinya. Partikel pasir memiliki bobot isi tinggi dari pada tanah liat, bobot isi tanah adalah hasil pembagian berat kering mutlak dengan volumenya. BI = massa padatan / volume padatan.

2.6.2 Faktor Yang Mempengaruhi Bobot Isi

Menurut Lucas (1992) dalam Nuslihat (2003), nilai bobot isi sangat bergantung pada pemadatan. Komposisi bahan-bahan penyusunnya. Tingkat dekomposisi serta kandungan mineral dan kadar air saat pengambilan sampel.

Nilai berat isi tanah sangat bervariatif antara satu titik dengan titik yang lainnya karena perbedaan kandungan bahan organic tanah, ke seluruh tanah, kedalaman tanah, jenis fauna tanah dan kadar tanah (Agus et al, 2006 dalam Djunaedi, 2008)

2.6.3 Fungsi Penentuan Bobot Isi

Bobot isi tanah adapt digunakan untuk menunjukkan nilai batas tanah dalam membatasi kemampuan akan untuk menembus (penetrasi) tanah dan untuk pertambahan akar tersebut (Darliara, 2009)

Menurut Hardjowigeno (1995) bobot isi tanah adalah bobot kering suatu unit volume tanah dalam keadaan utuh, dinyatakan dalam gr/cm3, unit volume terdiri dari volume yang terisi bukan padat dari volume ruangan diantarannya.

2.7 Penetapan Bobot Jenis

2.7.1 Menurut Bobot Jenis

Menurut Handayanto dan Hairiyati (2007), bobot jenis adalah berat persatuan volume. Tanah memiliki berat jenis isi (BJi) dan berat jenis partikel (BJP) adalah berat partikel padat dan tanah dibagian dengan volume partikel padatan tanah.

Menurut Hanafiah (2009), kecepatan partikel (bobot partikel, BP) adalah bobot massa partikel padat persatuan volume tanah, biasanya tanah mempunyai kerapatan partikel 2.6 g/cm3.

2.7.2 Faktor Yang Mempengaruhi Bobot Jenis

Fraksi halus dalam bentuk sedimen tersuspensi juga dapat menyumbat pori-pori tanah dilapisi permukaan akan meningkat. Akan tetapi demikian mempunyai agregat yang mantap yakni, tidak mudah tersuspensi, maka penyerapan air ke dalam tanah masih cukup besar, sehingga aliran permukaan dan erosi menjadi relative tidak bebahaya (Arshad, 2000) dalam Dariah et al (2009).

Karena berat bahan organic yang lebih kecil dari buat benda padat tanah memiliki yang lain dalam volume sama. Jumlah bahaya organic dalam suatu tanah jelas mempengaruhi bobot jenis. Akibatnya tanah permukaan biasanya memiliki bobot jenis partikel yang lebih kecil dari sub oil. Dengan kata lain semakin kecil nilai dari pada bobot jenis partikel. Sedangkan semakin banyaknya mineral berat badan yang terkandung di dalam tanah, maka akan semakin besar pula nilai bobot jenis partikel tanah tersebut. (Buckand Myle, 1982 dalam Valerien, 2009)

2.7.3 Fungsi Penentuan Bobot Jenis

Penentuan bobot jenis tanah dilakukan di Laboratorium terhadap contoh tanah yang diambil dari lapangan. Kegunaan hasil uji bobot jenis ini dapat diterapkan untuk menentukan konsistensi perilaku material dan sifatnya (SNI, 2009)

Pengujian berat jenis tanah dimaksudkan untuk mengetahui besarnya nilai perbandingan berat butir-butir tanah dengan air destilasi di udara dengan volume yang sama pada suhu tertentu (Purniasari, 2008).

2.8 Penentuan Ruang Pori

2.8.1 Penentuan Ruang Pori

Pori-pori tanah adalah bagian yang tidak terisi bahan padat tanah (terisi oleh udara dan air). Pori-pori tanah dapat dibedakan menjadi Pori-pori halus (mikropone), (Hardjowigeno, 2007)

Menurut handayanto dan hairiah (2007) dikenal dua kelas Pori-pori tanah berdasarkan ukuran diameternya yaitu Pori-pori makro (diameter 30-100 Nm) dan Pori-pori mikro (diameter > 30 Nm). Banyak dari tanah pasir. Adapun factor yang mempengaruhi ruang tanah antara lain : kandungan bahan organic, struktur tanah, tekstur tanah (Sunarmi dkk, 2006).

Menurut Hardjowigeno (1995) factor yang mempengaruhi ruang pori tanah antara lain kandungan bahan organic, struktur tanah, dan tekstur tanah, porositas tanah tinggi kalau bahan organic tinggi.

2.8.2 Fungsi Penentuan Ruang Pori Tanah

Menurut Sunarmi dkk, (2006) di dalam tanah terdapat sejumlah ruang Pori-pori. Ruang Pori-pori ini penting karena diisi oleh air dan udara, Pori-pori dibedakan atas :

a. Pori-pori mikro : berisi air kapiler dan atau udara

b. Pori-pori makro : berisi air gravitasi dan atau udara

Menurut Aisyah (2000) dalam Dariyah (2009), fraksi halus dalam bentuk sedimen tersuspensi juga dapat menyumbang Pori-pori tanah di lapisan mempunyai agregat yang mantab yakni tidak mudah terdispensi, maka penyerapan air ke dalam tanah masih cukup besar sehingga aliran permukaan, dan erosi menjadi relative tidak berbahaya.

2.9 Konsistensi Tanah

2.9.1 Pengertian Konsistensi Tanah

Menurut Hanafiah (2009), apabila struktur merupakan hasil keragaman gaya-gaya fisik (kimiawi dan biologis) yang bekerja dari dalam tanah, maka konsistensi merupakan ketahanan tanah, tehadap tekanan gaya-gaya dari luar, yang merupakan indicator derajat manifestasi bebatuan dan corak gaya-gaya fisik (kohesi dan adhesi) yang bekerja pada tanah dengan tingkat kejenuhan airnya.

Menurut Sutanto (2005), konsistensi tanah ditafsirkan sebagai bentuk kerja kakas (force) fisik adhesi dan kohesi partikel-partikel tanah pada berbagai tingkat kelengkapan.

2.9.2 Macam-Macam Konsistensi Tanah

Menurut Susanto (2005), macam-macam konsistensi tanah yaitu :

(1) Konsistensi tanah

Konsistensi basah diamati pada saat tanah dalam keadaan basah akan berada di atas kapasitas lapang.

a) Kelekatan adalah keadaan adhesi tanah terhadap benda lain

- Tidak lekat

- Agak lekat

- Lekat

- Sangat lekat

b) Plastisitas adalah kemampuan bahan tanah untuk diubah bentuknya karena pengaruh tekanan dan tahap pola pada bentuk semula meskipun tekanan lebih dilepaskan

- Tidak plastis

- Agak plastis

- Plastis

- Sangat plastis

(2) Konsistensi lembab

Konsistensi lembab diamati pada kondisi kurang lebih antara angin dan kapasitas lapang, dengan cara diremas sampai tanah agak lembab

- Lepas-lepas

- Sangat gembur

- Gember

- Teguh

- Sangat teguh

- Luar biasa teguh

(3) Konsistensi kering

Konsistensi kering diukur dengan cara memecah agregat dalam keadaan kering angin menggunakan ibu jari dan telunjuk atau menggunakan tangan

- Lepas-lepas

- Lunak

- Agak keras

- Keras

- Sangat keras

- Luar biasa keras

Menurut Hanafiah (2009), konsistensi diterapkan dalam tiga kadar air tanah yaitu :

(1) Konsistensi basah (pada kadar air sekitar kapasitas lapang (fild capasity)) untuk meniai : (a) derajat kekuatan tanah terhadap benda-benda yang dideskripsikan menjadi : tidak lekat, agak lekat, lekat dan sangat lekat serta (a) derajat kelenturan tanah terhadap perubahan bentuknya, yaitu non plastic (kaku) agak plastis, dan sangat plastis.

(2) Konsistensi lembab (kadar air antara kapasitas lapangan dan kering udara) untuk menilai agar kegemburan tanah, di pilah menjadi : lepas, sangat gembur, gembur, tegh, sangat teguh dan ekstrim teguh

(3) Konsistensi kering (kadar air kondisi kering udara) untuk menilai derajat kekerasan tanah yaitu : lepas, lunak, agak keras, sangat keras dan ekstrim keras

2.9.3 Faktor Yang Mempengaruhi Konsistensi Tanah

Menurut Hanafiah (2009), factor-faktor yang mempengaruhi konsistnesi tanah meliputi (1) tekstur, (2) sifat dan jumlah koloid organic maupun anorganik (3) struktur dan terutama (4) kadar air tawar.

Menurut Sutanto (2005) dua factor utama yang mempengaruhi konsistensi tanah yakni : (a) kondisi kelegasan tanah (kering, lembab, basah) dan (b) tekstur tanah (terutama kandungan lempung)

2.9.4 Fungsi Penentuan Konsistensi Tanah

Menurut Sutanto (2005), konistensi tanah yang paling penting untuk menentukan cara pengolahan yang baik, juga penting bagi penetrasi akar tanaman di lapisan bawah dan kemampuan tanah menyimpan logos.

Hasil penetrasi konsistens tanah-tanah di swedia oleh Atteberg, disebut konstanta Atterberg dapat digerakkan sebagai indeks yang (a) menjadikasikan tingkat akumulasi tingkat akumulasi liat di dalam profil tanah, dan (b) mekanisme pertanian (Hanafiah, 2009).

2.10 Kapasitas Tanah Menahan Air

2.10.1 Pengertian Kapasitas Tanah Menahan Air

Kapasitas lapang adalah keadaan tanah yang cukup lembab yang menunjukkan jumlah air terbanyak yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik : gravitasi. Air yang dapat ditahan oleh tanah disebut tirus menerus diserap oleh akar-akar tanaman atau menguap sehingga tanah makin lama semakin bening (Madjid, 2009).

Kemampuan potensial tanah menahan air hujan dan diran permukaan untuk tipe penggunaan lahan non sawah dihitung berdasarkan total ruang pori tanah, kandungan air tanah pada kapasitas lapang, zona perekatan, dan inforsepsi air oleh rajuk tanaman (Yusmandhany, 2004).

2.10.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi kapasitas tanah menahan air

Kemampuan tanah menahan air dipengaruhi antara lain oleh tekstur tanah. Tanah-tanah bertekstur kasar mempunyai daya menahan air lebih kecil dari pada tanah bertekstur halus. Oleh karena itu, tanaman yang ditanam pada tanah pasir umumnya lebih mudah kekeringan dari pada tanah-tanah bertekstur lempung atau liat (Madjid, 2009).

Kemampuan menahan ait dipengaruhi antara lain oleh tekstur tanah. Tanah bertekstur kasar mempunyai kemampuan menahan air lebih kecil dari pada tanah bertekstur halus (Scribt, 2010).

2.10.3 Fungsi Penentuan Kapasitas Tanah Menahan Air

Berbagai fungsi air bagi pertumbuhan tanaman adalah :

(1) Sebagai unsure hara tanaman

Tanaman memerlukan air dari tanah bersamaan dengan kebutuhan COL dari udara untuk membentuk gula dan karbohidrat dalam proses fotosintesis

(2) Sebagai pelarut unsure hara

Unsure-unsur hara yang terlarut dalam air diserap oleh akar-akar tanaman dari larutan tersebut.

(3) Sebagai bagian dari sel-sel tanaman

Air merupakan bagian dari protoplasma sel tanaman.

Menurut pemerintah nunukan (2004), Ada yang terdapat di dalam tanah karena ditekan / diserap oleh massa tanah oleh lapisan kadar air atau karena keadaan drainase yang kurang baik bagi pertumbuhan tanaman adalah :

- Sebagai unsure hara tanaman

- Sebagai pelarut unsure hara

- Sebagai bagian dari sel tanaman

2.11 Pupuk Dan Pengapuran

2.11.1 Pengertian Pupuk Dan Pengapuran

Dalam pengertian sehari-hari pupuk adalah suatu bahan yang digunakan untuk memperbaiki kesuburan tanah. Sedangkan pemupukan adalah penambahan bahan-bahan tersebut ke tanah agar tanah lebih subur (Hardjowigeno, 2004).

Pengapuran adalah pemberian kapur ke dalam perairan (kolam atau tambak) untuk meningkatkan pH tanah dan air (Purwohadiyanto, 2006).

Pupuk diaplikasikan pada kolam untuk menambal, konsentrasi nutrient anorganik, memperbesar pertumbuhan fitoplankton dari pada akhirnya mempertinggi produksi dari ikan atau crustacean (Boyd, 1990).

2.11.2 Fungsi Pupuk Dan Pengapuran

Dalam alam yang bebas dari pengaruh manusia perkembangan tanaman seimbang dengan pelapukan batu-batuan dan pelapukan sisa-sisa organism tetapi dengan usaha yang dilakukan manusia ini maka proses penghayutan dan pencucian zat hara yang hilang dari tanah diperbesar (Hardjowigeno, 2007)

Menurut Widijarko (2005) kapur pada umumnya menghasilkan peningkatan total alkanitas dan kesadaran total. Peningkatan alkanitas dan kesadahan total setelah pemberian kapur ternyata berhubungan derajat keasaman air dan dengan jumlah kapur yang diinginkan.

2.11.3 Macam Dan Jenis Pupuk Serta Penjelasannya

Pupuk dapat dibedakan menjadi pupuk alam dan pupuk buatan. Pupuk alam adalah pupuk yang langsung di dapat dari alam, misalnya phospat alam, pupuk organic (pupuk kandang, kompos dan sebagainya). Jumlah dan jenis unsure hara dalam pupuk akan terdapat secara alami. Pupuk buatan adalah pupuk yang dibuat di pabrik dengan jenis dan unsure haranya sengaja ditambahkan pada pupuk tersebut dalam jumlah tertentu. (Hardjowigeno, 2007).

Menurut Purwohadiyanto (2006), pupuk dibagi menjadi 2 golongan yaitu pupuk alam yang meliputi pupuk hijau yang berasal dari bahan tumbuhan, pupuk kandang yang berasal dari kotoran hewan ternak dan kompas, pupuk tersebut dari kotoran hewan ternak dan kompos, pupuk tersebut disebut juga pupuk organic. Sedangkan pupuk yang kedua adalah pupuk buatan biasa disebut pupuk anorganik. Semakin meningkat penggunannya hubungan dengan kebutuhan akan pupuk semakin hari semakin meningkat maka pembangunan pabrik-pabrik untuk memenuhi kebutuhan meningkat juga sehingga tidak hanya menggantung dari pupuk alam saja.

2.11.4 Kandungan Pupuk Organic

Menurut Knoty, katpo dan Hide (1970) dalam Hardjowigeno (2007), secara umum dapat disebutkan bahwa setiap ton pupuk kandang mengandung 5 kg N, 3 kg P2O5 dan 5 kg K2O serta unsure-unsur piara esensial lain dalam jumlah yang relative kecil.

Menurut Herwadi (1990) dalam Purwohardiyanto (2006), bahwa penggunaan pupuk kandang adalah

- Pupuk kotoran sapi sebanyak 7.5 ton / ha

- Pupuk kotoran kuda sebanyak 5-7.5 ton / ha

- Pupuk kotoran kambing sebanyak < - 5.5 ton / ha

Pupuk digunakan dua minggu sebelum tanah atau tebar benih ikan

Menurut Subarijanti (2000) pupuk alam umumnya mengandung sedikit unsure hara, sehingga dalam penggunaannya diperlukan jumlah yang cukup banyak.

2.11.5 Proses Pembuatan Pupuk Organic

Menurut Hardjowigeno (2007) kompos adalah bahan organic yang dibusukkan pada suatu tempat yang telrindung dari matahar dan hujan, diatur kelembapannya dengan menyiram air bila terlalu kering untuk mempercepat perombakan dapat ditambah kapur, sehingga terbentuk kompos dengan C/N rasio rendah yang siap digunakan bahan untuk kompos dapat berupa sampah, atau sisa-sisa tanaman tertentu. (jerami dan lain-lain)

Kotoran ternak besar dikumpulkan 1-3 hari sekali pada saat pembersihan kandang dan dikumpulkan dengan cara ditumpuk disuatu tempat tertentu. Petani yang telah maju ada yang memberikan mikroba decomposer dengan tujuan untuk mengurangi bau tetapi banyak pula yang hanya sekedar di tumbuk dan dibiarkan sampai pada waktunya digunakan di lahan (Hartatik, dan Widowati, 2009).

Menurut Annas (2007), teknis pembuatan kompos untuk setiap kuintal bahan kompos dibutuhkan bahan sebagai berikut :

1. Kotoran hewan / jerami = 100 kg

2. Serbuk gergaji = 20 kg

3. Bekatul = 2 kg

4. Cm = 50 cc

5. Tetes tebu / larutan tanah gula = 100 cc

6. Air = 25 liter

7. Nutrisi = secukupnya

Cara pembuatan

1) Bahan 1,2,3 dicampur hingga merata

2) Bahan 4,5,6 dan 7 dilarutkan dalam air (bahan 6)

3) Larutan pada print b disiramkan pada adonan (hasil campuran peina) tunggal homogeny

4) Adonan dibuat gundukan

5) Adonan ditutup dengan plastic 4-5 hari dan setiap harinya adonan diaduk dan dibalik dan ditutup kembali dengan plastic

6) Proses dekomposisi berlangsung ditandai dengan naiknya suhu

7) Hasil kompos dikatakan berhasil dengan tanda :

- Dipegang tidak lengket

- Tidak bau dan tidak panas

- Warna lebih logam / mengkilap

2.12 Plankton Dan Kesuburan Perairan

2.12.1 Pengertian Kesuburan Perairan

Kesuburan perairan adalah suatu keadaan perairan dimana kondisi fisik, kimia dan biologi dalam keadaan yang optimal bagi perairan (Suyanto, 2006)

Menurut Acong (2010) produktivitas perairan memberikan gambaran mengenai kemampuan biota untuk dapat melakukan aktifitas hidupnya. Kajian terhadap produktifitas perairan dapat didekati dengan mengkaji profil beberapa biota laut terutama plankton, bethas dan nekton. Untuk menduga tingkah kesuburan (produktivitas) perairan laut dapat didekati dengan melakukan analisa fisika, kimia, biologi yang bersangkutan.

2.12.2 Pembagian Penggolongan Berdasarkan Kesuburan

Menurut Getman dan Horne (1983) dalam apridayanti (2008) berdasarkan kandungan hara (tingkat kesuburan) danau di klasifikasikan dalam 3 jenis, yaitu dengan danau eutropik, danau digotropik danau mesotropik.

Menurut Kevein (2004), penggolongan kesuburan periran dibagi menjadi :

· Oligotrophic, perairan yang mengandung konsentarsi nutrient yang dibutuhkan oleh tumbuhan untuk tumbuh serta produktivitas secara keseluruhan yang rendah

· Eutrophic, perairan yang secara umum kandungannya sangat berbeda dengan oligotropic perairan ini kaya akan nutrient yang dibutuhkan perairan dan produktivitasnya yang tinggi

2.12.3 Pembagian Plankton Berdasarkan Jenis

Fitoplankton jenisnya ada yang berupa diatome dan dinoflagellata adalah dominan selalu diseluruh laut sebagai produsen. Diatome di dapat di daerah-daerah beriklim kutub dab sedang, untuk perairan beriklim subtropics dan tropis dioflagellata sangat dominan (Setiadi, 1986)

Menurut Marine Science center (2003), zooplankton adalah hewan yang berukuran plankton adalah perenang yang lemah sedangkan fitoplankton adalah tumbuhan berukuran plankton yang tidak dapat berenang.

Fitoplankton jenisnya ada yang berupa diatome dan dinoflagellata adalah dominan sekali diseluruh laut sebagai produsen. Diatom di dapat di daerah – daerah beriklim kutub dan sedang, untuk perairan beriklim sub tropic dan tropic dinoflagellata sangat dominan (Setiadi, 1986).

2.12.4 Pembagian Planstok Berdasarkan Tingkah Laku

Menurut Nontji (2008) dalam Assoniusosa (2009) membagi plankton berdasarkan sebaran horizontalnya, baik fitoplaknton maupun zooplankton menjadi

- Plankton neritic (neritic plankton) hidup di perairan pantai dengan salinitas yang relative rendah

- Planktonoceanik : hidup di perairan lepas pantai hingga ke tengan samudra

Menurut Uncategorized (2009) dilihat dari sebagian partikelnya plankton dapat dibagi menjadi :

a. Epiplankton adalah plankton yang hidup di lapisan permukaan sampai kedalaman sekitar 100 m

b. Mesoplankton adalah plankton yang hidup di lapisan tengah, padat kedalaman sekitar 100-400 m

c. Hipoplankton adalah plankton yang hidup pada edalaman lebih dari 400 m.

Menurut Goldman dan Alexander (1983) plankton dibagi menjadi

1) Holoplankton, merupakan plankton yang banyak dijumpai, termasuk ganggang seperti : Asterionella, Fragilaria, dan Tubellaria

2) Meroplankton, merupakan plankton yang cukup banyak yang termasuk golongan ini seperti diatom melosira.

Menurut Horne dan Charles (1994) yang termasuk zooplankton adalah microzooplankton, seperti protozoa, porifera, dan moseplankton yaitu crustacean.

2.12.5 Jenis Plankton Yang Merugikan Dan Menguntungkan

Menurut Lestari dan Edward (2004) jenis-jenis fitoplankton beracun yang berhasil diidentifikasi dalam kasus kematian missal ikan-ikan dan di teluk Jakarta ini antara lain adalah Pyrodinium, sp, gymnodium sp, protoperidiun sp, protocebnim sp, dan dynopsis cruatade.

Menurut Saehlan (1983) dalam Widjaya (2009) jenis dan kelimpahan fitoplankton dikelompokkan menjadi dua berdasarkan kelas yang menguntungkan dan merugikan. Berdasarkan hasil yang dapat menunjukkan bahwa kelimpahan dari kelompok nynephyceae dan cyrophcase (jenis yang merugikan) berfluktuasi dengan kelompok bacillario phyceae dan chlorophyceace jenis yang menguntungkan.

3. METODOLOGI

3.1 Fungsi Alat

3.1.1 Pengambilan Contoh Tanah Utuh

· Ring sampel : untuk mengambil sampel tanah utuh

· Cetok : untuk menggali tanah

· Nampan : untuk wadah peralatan dan sampel bahan

· Jangka sorong : untuk mengukur diameter ring sampel

3.1.2 Pengambilan Contoh Tanah Biasa

· Nampan : untuk wadah peralatan dan sampel tanah

· Cetok : untuk menggali tanah

3.1.3 Penentuan Tekstur Dengan Perasaan

· Botol penyemprot : tempat aquadest atau air keran

· Nampan : untuk wadah peralatan dan sampel tanah

3.1.4 Penentuan Tekstur Tanah Dengan Secara Sederhana

· Timbangan digital : untuk menimbang sampel tanah dengan ketelitian 0,01 gram

· Beaker glass 250 ml : sebagai tempat untuk objek pengamatan

· Gelas ukur 100 ml : sebagai tempat air dan tempat objek pengamatan

· Palu : untuk menghaluskan tanah

· Nampan : untuk wadah peralatan dan sampel tanah

· Spatula : untukmengaduk atau menghomogenkan larutan

3.1.5 Penentuan Ph Tanah

· Ph tanah : untuk mengukur ph pada tanah

3.1.6 Penetapan Bobot Isi

· Oven : untuk memanaskan contoh tanah utuh hingga tidak mengandung air

· Timbangan analitik : untuk menimbang ring sampel dengan ketelitian 102 gram

· Ring sampel : tempat yang digunakan untuk contoh sampel

· Jangka sorong : untuk mengukur tinggi dan diameter ring sampel

3.1.7 Penetapan Bobot Jenis

· Hot plate : untuk memanaskan air dengan suhu tertentu

· Beaker glass 250 ml : untuk menampung contoh tanah

· Spatula : untuk mengaduk tanah dan air pada gelas ukur

· Ayakan : untuk mengayak contoh tanah yang ditentukan bobot jenis

· Palu : untuk menghancurkan contoh tanah utuh

3.1.8 Konsistensi Tanah

· Botol semprot : untuk menyemprot air agar tanah sampai lembab hingga basah

· Nampan : untuk meletakan alat dan bahan

3.1.9 Kapasitas Tanah Menahan Air

· Gelas ukur 100 ml : untuk mengukur volume air

· Timbangan analitik : untuk menimbang sampel tanah dengan ketelitian 102 gram

· Beaker glass 250 ml : wadah untuk pengamatan sampel tanah

· Nampan ; untuk wadah alat dan bahan

3.1.10 Pengukuran DO

· Botol do : tempat untuk air sampel pengukuran do

· Buret : tempat larutan dan alat untuk titrasi

· Corong : untuk membantu memasukkan larutan titran

3.1.11 Suhu

· Thermometer : sebagi alat pengukur suhu air kolam

3.1.12 Pemupukan Plankton

· Botol film : wadah sampel plankton

· Plankton net : untuk mengambil plankton

3.1.13 Perhitungan

· Botol film : wadah sampel plankton

· Pipet tetes : untuk mengambil bahan dalam botol film dalam jumlah sedikit

· Cover glass : untuk menutup sampel plankton diatas objrk glass

· Mikroskop : untuk mengamati plankton

· Haemocytometer : untuk tempat mengamati plankton

3.2 Bahan Dan Fungsinya

3.2.1 Pengambilan Contoh Tanah Utuh

· Tanah : sebagai objek pengamatan

· Kertas label : untuk memberikan tanda pada ring sampel agar tidak tertukar

3.2.2 Pengambilan Contoh Tanah Biasa

· Tanah : sebagai objek pengamatan

· Air : untuk melunakkan tanah

· Koran ; sebagai tempat atau alas tanah

3.2.3 Penentuan Tekstur Tanah Dengan Perasaan

· Tanah : sebagai objek pengamatan

· Air / aquadest : untuk melunakkan tanah

3.2.4 Penentuan Tanah Secara Sederhana

· Tanah : sebagai objek yang amati

· Air : untuk melarutkan tanah yang sudah dihaluskan

3.2.5 Penentuan Ph Tanah

· Tanah ; media yang diukur phnya

3.2.6 Penetapan Bobot Jenis

· Tanah ; sebagai bahan yang diamati

· Air panas ; bahan untuk pelarut tanah

· Koran ; untuk alas tanah yang dihaluskan

3.2.7 Penetapan Bobot Isi

· Tanah : sebagai bahan yang diamati

3.2.8 Konsistensi tanah

· Tanah : sebagai bahan yang diamati

· Air tawar : bahan untuk pelarut tanah

3.2.9 Kapasitas Tanah Menahan Air

· Tanah : sebagai bahan yang diamati

· Air tawar : sebagi pelarut tanah

3.2.10 Pengukuran DO

· Air kolam ; media pengambilan sampel

· Mnso4 2 ml : untuk mengikat o2

· Naoh + ki 2 ml : untuk membentuk endapan coklat

· Amilum 3-4 tetes : sebagai indicator basa

· H2so4 2 ml : sebagai indicator asam dan pelarut endapan coklat

· Na2s2o3 0,025 n : untuk larutan titran

3.2.11 Suhu

· Air kolam ; sebagai objek pengamatan yang diukur suhunya

3.2.12 Pengumpulan plankton

· Air sampel : sebagai objek pengamatan

3.2.13 Perhitungan plankton

· Air sampel :sebagai objekpengamatan

· Tissue ; sebagai pembesih cover glass dan objek glass

3.3 Skema Kerja

3.3.1 Pengambilan Contoh Tanah Utuh

Ring Sampel

Ring Sampel

Tanah

- ditimbang, diukur tinggi dan diameter tanah dengan jangka sorong

Tanah

- ditimbang di atas tanah secara tegak lurus

- dimasukkan ring pertama sampai ¾ bagian

- diletakkan ring kedua sampai sedalam 7 cm

- dipisahkan ring pertama dan kedua

- diratakan tanah pada bagian atas dan bawah ring

Hasil

- ditutup dan diberi kertas label

Hasil

3.3.2 Pengambilan Contoh Tanah Biasa



Tanah bekas galian


Tanah bekas galian

- Diambil

- Dimasukkan ke dalam nampan

- Diberi kertas label

-

Hasil

Dikeringanginkan

Hasil

3.3.3 Penentuan Tekstur Tanah dengan perasaan



Tanah Utuh


Tanah Utuh

- Dihaluskan kira-kira 100 gram

- Disiapkan air dalam botol semprot

- Diambil tanah kira-kira 2 sendok makan dan diletakkan ditelapak tangan

- Diteteskan air sedikit demi sedikit smbil dihomogenkan dan disesek dengan telunjuk tangan yang lain

- Diratakan tekstur tanahnya

- Ditaksir berapa banyak pasir dengan merasakan tingkat kekerasannya

- Ditambah air lagi (sedikit demi sedikit) dan dipijat-pijat antara ibu jari dan telunjuk (lekat/mudah lepas)

- Ditambah sedikit air lagi sampai bisa digulung

-

Hasil

Ditentukan kelas tekstur tanah yang dianalisa

Hasil

3.3.4 Penentuan Tekstur Tanah Secara Sederhana



Tanah


Tanah

- Dihaluskan

- Ditimbang sebanyak 50 gram

- Dimasukkan ke dalam gelas ukur 100 ml

- Ditumbuhkan air sampai ¾ bagian gelas ukur

- Diaduk hingga air dan tanah larut

- Dibiarkan sampai mengendap dan membentuk lapisan

- Diukur tinggi tanah masing-masing fraksi (debu, liat, pasir)

-

Hasil

Ditentukan tekstur dengan segitiga tekstur

Hasil

3.3.5 Penentuan pH Tanah



pH Meter


pH Meter

- Dimasukkan ke dalam tanah hingga logam kuning

-

Hasil

Diamati jarus penunjuk

Hasil

3.3.6 Berat Isi



Tanah Kering Oven


Tanah kering oven

- Ditimbang

- Dikeluarkan dari ring sampel

- Ring dibersihkan

Ring Kosong

Ring Kosong

- Ditimbang

- Diukur jari-jari dalam ring

- Diukur fungsi

-

Hasil

Dihitung nilai berat isi

Hasil

3.3.7 Berat Jenis



Beaker Glass


Beaker Glass

- Diisi air panas dengan ketinggian 200 ml

-

Tanah

Dipindahkan ke dalam gelas ukur 100 ml

Tanah

- Dihancurkan sampai halus

- Diayak

- Dimasukkan kedalam beaker glass dan diaduk

-

Gelas ukur

Ditambahkan air sampai volume 200 ml dengan gelas ukur

Gelas ukur

- Dihitung volume air pada gelas ukur sebagai volume padatan

-

Hasil

Dihitung nilai berat jenis

Hasil

3.3.8 Konsistensi Tanah




3.3.9 Kapasitas Tanah Menahan Air




3.3.10 Pengukuran DO




3.3.11 Suhu




3.3.12 Pengumpulan Plankton




Hasil

3.3.13 Perhitungan Plankton




3.4 Analisa Prosedur

3.4.1 Pengambilan Contoh Tanah Utuh

Pada praktikum ilmu tanah, pemupukan, dan kesuburan perairan tentang pengambilan contoh utuh, langkah yang pertama kali dilakukan adalah menyiapkan alat dan bahan . Alat yang digunakan yaitu ring sampel, cetok, palu, nampan, cangkul, jangka sorong dan timbangan digital. Sedangkan bahan yang digunakan antara lain tanah, kertas label dan koran.

Lalu ditimbangring sampel dengan timbangan digital yang ketelitiannya 0,01 gram dan diukur tinggi dan diameter ring sampelnya dengan menggunakan jangka sorongdan penggaris.

Kemudian dicari tanah pada suatu kawasan yang tidak ada timbunana supaya struktur tanah dapat terlihat dan tidak terdapat bekas bangunan. Kemudian diratakan dan dibersihkan tanah dari rerumputan. Lalu ring sampel diletakkan diatas tanah secara tegak lurus dengan tujuan agar tidak ada lubang pada bagian tengah. Dan ring sampel ditekan ke dalam tanah dengan menggunakan palu atau tangan sampai ¾ bagian .lalu diletakkan ring kedua diatas ring pertama dan ditekan sehingga ring kedua tinggi permukaannya 1 cm dari permukaan. Selanjutnya ring pertama diambil dengan cara menggali di sekelilng ring sampel dengan menggunakan cetok dan cangkul. Lalu diratakan atas dan bawah ring sampel serta ditutup dengan penutup ring sampel. Diberi kertas label agar ring sampel tidak tertukar dengan kelompok lain.

3.4.2 Pengambilan Contoh Tanah Biasa

Langkah pertama yang dilakukan adalah menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Alat yang digunakan seperti nampan dan cetok sedangkan bahannya yakni tanah dan kertas label. Setelah itu, tanah digali untuk menggambil bagian-bagian yang halus. Kemudian tanah diambil dengan mengguanakn cetok dan dimasukkan tanah kedalam nampan untuk diidentifikasi dan diberi kertas label untuk menandai tanah milik kelompok. Selanjutnya tanah dikeringkan dalam oven dan ditunggu beberapa saat,

3.4.3 Penentuan Tektur Tanah Dengan Perasaan

Pada praktikum tentang penentuan tekstur tanahdengan perasaan, langkah pertama yang dilakukan yakni disiapkan alat dan bahan yanh akan digunakan. Alat yang digunakan seperti cetok, botol aquadest, dan nampan. Sedangkan bahan yang digunakan seperti tanah biasa dan aqudest. Selanjutnya tanah biasa diambil kurang lebih 100 gram dan ditetesi atau dosemprot dengan aquadest yang diletakkan dalam botol spranyer. Disemprot sedikit-sedikit sambil digosok–gosok dengan telapak tangan lalu dirasakan teksturnya. Selain itu dirasakan tekstur liat dan ditaksir jenis tanahnya. Selanjutnya ditambah lagi dengan air, kemudian diremas-remas denga telapak tangan hingga teras lengket. Lalu ditambah lagi dengan sedikit air hingga bias digulung-gulung sepanjang 5 cm dengan diameter 1,5 cm. Setelah itu ditentukan kelas dari tanah tersebut dengan menggunakan indicator yang telah ditentukan. Dan dicatat hasilnya.

3.4.4 Penentuan Tekstur Tanah Secara Sederhana

Pada praktikum tentang penentuan tekstur tanah secara sederhana, langkah yang pertama kali dilakukan yakni menyiapakan alat dan bahan yang akan digunakan. Alat yang digunakan seperti palu, timbangan digital, gelas ukur, beaker glass dan spatula. Sedangkan bahan yang digunakan seperti tanah biasa dan aquades. Lalu tanah biasa dihaluskan dengan menggunakan palu atau tangan. Kemudian ditimbang sebanyak 50 gram dengan timbangan digital dengan ketelitian 0,01gram. Selanjutnya dimasukkan tanah yang telah ditimbang ke dalam gelas ukur . Diisi denga air panas hingga 100 ml dan diaduk rata dengan menggunakan spatula sehingga tercampur atau tanah larut dalam air. Setelah tercampur, diendapkan hingga 15 menit sampai terdapat endapan tanah dan membentuk lapisan. Setelah itu lapisan tersebut dapat terlihat terdiri atas fraksi debu, liat dan pasir. Lalu diukut tinggi masing-masing endapan lapisan kemudian ditentukan jenis tanahnya dengan menggunakan segitiga tekstur tanah.

3.4.5 Penetapan Bobot Isi

Langkah pertama yang dilakukan yakni ditimbang sampel tanah kering oven sebagai contoh tanah dan ring sampel yang telah dioven untuk didapat berat tanah dan ring sampel. Lalu dikeluarkan tanah kering dari ring sampel dan dibersihkan ring sampel dari debu ataupun tanah yang menempel pada ring sampel, karena ring sampel akan ditimbang dan tidak ada tanah yang menempel yang mempengaruhi berat ring sampel. Kemudian ring sampel ditimbang dengan timbang analitik untuk diketahui berat ring sampel saja. Selanjutnya, diukur jari-jari dalam ring untuk mengetahui volume ring ampel dengan rumus V=π(r)2t , dimana V adlah volume ring ring sampel sebagai volume padatan, π= 3,14/ , r= jari-jari ring , t sebagia tinggi ring. Kemufian dihitung bobot isi dengan rumus BI=, dimana BI= Berat Isi, massa padatan yaitu massa tanah yang didapat, volume padatan adalah volume ring. Dan dicatat hasilnya.

3.4.6 Penetapan Bobot Jenis

Disiapkan beaker glass yang berisi air panas setinggi 200 ml untuk melarutkan tanah yang telah dihaluskan. Kemudian dipindahkan ke gelas ukur 100 ml. Lalu tanah dihancurkan sampai halus dengan menggunakan palu dan dengan sedikit digiling dengan ring sampel. Kemudian tanah yang dihaluskan, dimasukkan ke dalam beaker glass dan diaduk agar homogeny. Ditambahkan air sampel volume 200 ml dalam gelas ukur. Selanjutnya dihitung V air pada gelas ukur sehingga menjadi volume padatan. Kemudian dihitung nilai BJ dengan rumus BJ=, Bj= berat jenis, massa padatan yaitu massa dari tanah, volume padatan yaitu volume air pada gelas ukur yang digunakan.

3.4.7 Konsisitensi Tanah

Tanah yang dikeringanginkan diambil dalam keadaan kering lalu dipijat agar tidak menggumpal. Lalu disemprot sampai lembab tanah yang dipijat dengan ibu jari dan telunjuk. Disemprot air sampai basah agar lebih lembek dan lentur. Kemudian dibuat gulungan pita dari tanah dengan diameter ½ dan panjang 3 cm. Selanjutnya kedua ujung ditemukan jangan sampai patah agar kita dapat melihat sifat dari tanahbtersenut. Lalu diuraikan sifat konsistensi tanah dari berbagi keadaan kering, lembab, dan basah. Dan dianalisa keadaan tanah tersebut.

3.4.8 Kapasitas Tanah Terhadap Air

Contoh tanah kering anginkan yang ada dalam nampan dihaluskan. Kemudian ditimbang sebanyak 150 gram. Lalu dimasukkan ke dalam beaker glass ukuran 250 ml. Kemudian pada beaker glass ditambahkan sedikit air ( dari gelas ukur 100 ml) sampai air menggenang diatas permukaan air. Selanjutnya banyak air yang dihitung pada tanah. Dan dicatat hasilnya.

3.4.9 Suhu

Thermometer dimasukkan ke dalam perairan dengan kedalaman 10 cm selama1 2 menit agar didapatkan nilai suhu yang valid dan membelakangi matahri agar pada ssat pengukuran suhubtidak mempengaruhi nilai suhu pada thermometer. Kemudian diamati skalanya sampai berhenti dan segera mencatat skalanya aqgar niali suhu yang didapat tidak berubah.

3.4.10 Pengukuran DO

Pertama-tama botol DO diukur dan dicatat volume botol DO. Botol DO dimasukkan ke dalam perairan dengan posisi miring jangan sampai timbul gelembung udara. Sampel air ditambahkan 2 ml MnSO4 untuk mengikat oksigen dan ditambah 2 ml NaOH + KI untuk membuat endapat coklat dan melepas I2. Ditunggu sekitar 30 menit, setelah itu larutan bening dibuang. Lalu botol berisi endapan coklat dimasuki H2SO4 2ml sebagai pelarut dan indikator asam. Kemudian ditetesi amilum 2-3 tetes sebagai indikator warna dan indikator basa. Setelah itu dititrasi dengan larutan Na2S2O3 dengam menggunakan buret sebagai wadah dan statif sebagai penyangga buret. Dititrasi sampai bening lalu dicatat volume titran yang diperlukan. Kemudian digunakan rumus DO yaitu :

3.4.11 pH air

Ph paper dicelupkan dalam air selama 2-3 menit agar didapatkan nilai ph yang valid. Kemudian diangkat ph paper dan dikibaskan agar ph paper kering dan air terserap ke dalam ph paper. Lalu dicocokkan ph paper paper dengan kotak standart ph dan dicatat hasilnya.

3.4.12 Pemupukan plankton

Plankton yang tumbuh setelah dilakukan pemupukan diambil dengan plankton net untuk didentifikasi. Pengambilan dengan plankton net tang berbentuk kerucut dan diujungnya diikatkan botol film untuk menampung plankton. Kemudian air kolam dituang ke dalam planktonnet dan digoyang-goyang lalu botol film yang sudah terisi plankton dicabut dari planktonnet dan segera ditutup.kemudian plankton dianalisa atau diidentifikasi dengan mikroskop.

3.4.13 Perhitungan plankton

Plankton yang telah ditampung diaduk terlebih dahulu agar plankton merata. Lalu diambil sampel air dengan pipet tetes dan diletakkan di haemocytometer. Saat meneteskan sampel, penetesannya dengan sudut 900 agar tidak meluber sampelnya. Kemudian haemocytometer diletakkan diatas mikroskop dan diatur fokusnya. Haemocytometer memiliki 4 buah ruang dimana dalam 7 ruang terdapat 16 kotak kecil sehingga jumlah plankton yang ada dihitung dengan rumus

4.3 Analisa Hasil

4.3.1 Pengambilan Contoh Tanah

Contoh tanah yang diambil di bagi menjadi dua bagian yaitu contoh tanah utuh dan contoh tanah biasa. Setiap kelompok pada praktikum ini mendapatkan hasil yang berbeda-beda hal ini disebabkan karena ring sampel yang digunakan pada setiap kelompok juga berbeda-beda. Pengambilan contoh tanah dilakukan untuk menganalisa kandungan tanah. Pada kelompok kami mendapatkan hasil massa tanah kering oven 103 gram dengan volume ring sampel 95,86 cm3 .

Hal ini sesuai dengan Menurut Hardjowigeno (1992), contoh-contoh tanah diambil dari lapangan kemudian dianalisis, dolaboratorium terhadap pH , kapasitas tukar kation, Ca, Mg, K, Na, P, kebutuhan bahan organic, terstur dan sebagainyasehingga diketahui kadar unsure hara tersebut di dalam tanah.

4.3.2 Penentuan Tekstur Tanah

4.3.2.1 Penentuan Tekstur Tanah dengan Perasaan

Berdasarkan hasil praktikum ilmu tanah, pemupukan dan kesuburan perairan tentang penentuan tekstur tanah dengan perasaan didapatkan hasil bahwa tanah yang di amati di pematang kolam merupakan jenis tanah liat.

Dengan hasil yang didapat sesuai dengan menurut Sunarmi dkk (2006), bahwa tekstur tanah menunjukkan kasar halusnya tanah. Secara kualitas bahwa tekstur tanah dapat menggambarkan bahwa apakah bahan tanah kasar atau halus. Hal ini dapat dirasakan dengan mengambil sedikit tanah basah di antara jari dan ibu jari jika ternyata terasa agak halus dan licin maka menunjukkan bahwa tanah tersebut kandungan litany relative cukup tinggi dan jika terasa kasar maka kandungan pasirnya cukup tinggi pengamatan ini dilakukan oleh orang-orang yang sudah berpengalaman.

4.3.2.2 Penentuan Tekstur Tanah Secara Sederhana

Berdasarkan hasil praktikum ilmu tanah , pemupukan dan kesuburan perairan tentang penentuan tekstur tanah secara sederhana di dapatkan hasil bahwa tanah yang di amati merupakan jenis tanah liat sebab telah dilakukan perlakuan dengan cara pengendapan.

Dari hasil penentuan jenis tanah secara sederhan hasil yang didapatkan sesuai menurut Sutejo dan Kartosapoetra (1991), bahwa partikel tanah (tekstur tanah) yang dikelompokkan berdasarkan ukuran tertentu disebut fraksi tanah. Fraksi ini dapat menjadi kasar maupun halus menurut system motir fraksi tanah pasir mempunyai ukuran 2,00 µm; debu 0,05-0,005 µm dan liat 0,005 µm.

4.3.3 Konsistensi Tanah

Dari praktikum Ilmu Tanah Pemupukan dan Kesuburan tentang materi konsistensi tanah, hasil yang didapat adalah: kelompok 1 pada tanah kering konsistensi yang didapat yaitu tanah agak keras, pada tanah lembab konsistensinya yaitu gembur dan pada tanah basah konsistensinya adalah tanah agak melekat dan agak elastis. Kelompok 2, pada tanah kering konsistensinya yaitu tanah agak keras. Pada tanah lembab konsistensinya yaitu tanah gembur. Pada tanah basah konsistensinya yaitu agak melekat dan tidak elastis. Pada kelompok 3, pada tanah kering konsistensinya yaitu agak keras. Pada tanah lembab konsistensinya yaitu tanah gembur. Pada tanah basah konsistensinya adalah tanah agak melekat dan agak elastis. Kelompok 4 pada tanah kering konsistensinya agak keras. Pada tanah lembab konsistensinya yaitu tanah gembur. Pada tanah basah konsistensinya tanah agak melekat dan elastis. Kelompok 5 pada tanah kering konsistensinya yaitu tanah agak keras. Pada tanah lembab konsistensinya tanah gembur dan pada tanah basah konsistensinya yaitu tanah lekat dan agak elastis. Pada kelompok 6, pada tanah kering konsistensinya yaitu tanah lunak, pada tanah lembab konsistensinya teguh dn pada tanah basah konsistensinya tanah melekat dan agak elastis. Hal ini sebanding dengan pernyataan Hanafiah(2009) bahwa, apabila struktur merupakan hasil keragaman gaya-gaya fisik(kimiawi dan biologis) yang bekerja dari dalam tanah, maka konsistensi merupakan ketahanan tanah terhadap tekanan gaya-gaya dari luar yang merupakan indikator derajat manifestasi kekuatan dan corak gaya-gaya fisik(kohesi dan adhesi) yang bekerja pada tanah selaras dengan tingkat kejenuhan airnya.

4.3.4 Kapasitas Tanah Menahan Air

Dari praktikum Ilmu Tanah Pemupukan dan Kesuburan tentang materi kapasitas tanah menahan air, hasil yang didapat adalah kelompok 1 diperoleh hasil 0,35 ml/gr, kelompok 2 sebesar o,72 ml/gr, kelompok 3 kapasitas tanah menahan air adalah 0,59 ml/gr, Kelompok 5 mendapat hasil sebesar 0,46ml/gr, kelompok 6 mendapat hasil sebesar 0,53 ml/gr dan kelompok 7 mendapat hasil sebesar 0,53 ml/gr.

Hal diatas terjadi dimungkinkan karena jenis tanah yang berbeda karena diambil dari tempat yang berbeda, ini diperkuat dengan pendapat Untan(2008) yaitu: tanah bertekstur liat mempunyai luas permukaan yang lebih besar sehingga kemampuan menahan air dan menyediakan unsur hara tinggi.Tanah bertekstur halus lebih aktif dalam reaksi kimia dari pada bertekstur kasar. Tanah bertekstur pasir mempunyai luas permukaan yang lebih kecilsehingga sulit menyerap (menahan) air dan unsur hara.

4.5 Hubungan Bobot Isi, Bobot Jenis, Ruang Pori dan Bahan Organik

Didalam fisika tanah hubungan yang mendasar tentang bahan-bahan penyusun tanah dinyatakan sebagai bobot jenis, kadar lengas dan porositas. Di dalam tanah terdapat sejumlah ruang pori-pori, ruang pori ini penting karena diisi air dan udara . tanah pasir mempunyai pori-pori makin banyak dan sulit menahan air sehingga mudah kosong. Tanah liat mempunyai pori-pori total (mikro dan makro) lebih banyak dari tanah pasir. Porositas tanah dipengaruhi kandungan bahan organik, stuktur tanah dan tekstur tanah. Tanah-tanah gembur ramah mengandung bahan organik mempunyai porositas yang lebih tinggi daripada tanah tanah pesal yang masih, beberapa tanah mempunyai sifat mengembang bila tanah basah bila kering, akibatnya pada musim kering karena tidak mengkerut maka akan pecah-pecah. Sifat mengembang dan mengkerutnya tanah disebabkan oleh kandungan mineral urat yaitu non mineral yang tinggi. Di mana bobot isi ditentukan oleh jumlah ruang pori dan padatan tanah oleh mempunyai bobt jenis lebih rendah daripada lapisan bawah dan pengolahan tanahmempunyai ruang porinya (Sunarmi dkk, 2006).

Bobot jenis ruang pori tanah dan bahan organik tanah sangat mempengaruhi porositas tanah misalnya jika porositas tinggi, maka bahan organik tinggi kondisi ini mempungaruhi nilai. Nila bobot isi tanah sangat bervariasi antara titik dengan yang lain karena adanya perbedaan kandungan bahan organik. Berat jenis tinggi, bahan organik rendah, bobot isi rendah, ruang pori naik. Nilai berat jenis meningkat apabila bahan organik sedikit sebab bahan organik merupakan salah satu penyusun tanah yang terdapat pada satuan volume tanah. Baha organik sedikit berarti unsur penyusun tanah asli lebih bayak. Sedangkan pada bobot is, bila bahan organik jumlahnya sedikit berarti jarak antara partikel besar (porositas besar) dan nilai bobot isi kecil sebab BI merupakan perbandingan masa padatan utuh per satuan volume tanah. Makin besar porositas, lebih banyak udara dan air di dalam tanah, masa tanah sebenarnya lebih sedikit.

4.6. Hubungan Tekstur Tanah dan Kapasitas Tanah Menahan Air

Tanah – tanah yang bertekstur pasir, karena butiran-butirannya berukuran besar, maka setiap satuan berat (misalnya setiap gram) mempunyai luas permukaan yang lebih kecil, sehingga sulit menyerap (menarah) air dan unsur har. Tanah – tanah bertekstur liat karena lebih halus maka setiap satuan berat mempunyai luas permukaan yang lebih besar sehingga kemampuan menahan air dan menyediakan unsur hara lebih tinggi dari tanah bertekstur kasar, (Hardjowigeno, 2007).

Pasir mempunyai rongga udara yang berukuran besar di dalam tanah sehingga tidak bisa menahan air yang ada di atasnya. Sedangkan pada tanah liat, pori-pori yang kecil dan teksturnya halus membuat penyerapan atau perembesan air ke dalam tanah lebih sedikit.

4.7. Hubungan antara pH Taah dan Kesuburan

Di dalam mempelajari tanah, kemasaman merupakan ersoalan penting yang sangat menentukan dalam pemupukan karena kemasaman tanah merubah populasi dan aktivitas jasad mikro yang berperan dalam transformasi, Si, N, S, dan P dalam tanah, dan secara tidak langsung akan mempengaruhi ketrsediaan unsur-unsur tersebut bagi alga, (Subarijanti, 2000).

pH tanah berkaitan dengan kesuburan tanah sebab pH dapat menentukan kadar hara bagi suatu tanah. Sehingga pH tanah yang normal juga menyediakan banyak unsur hara dan tentu berpengaruh pada kesuburan.

4.8 Hubungan Jenis tanah dengan Kesuburan Perairan

Tanah mempengaruhi organisme yang hidup di perairan. Tanah yang mengandung bahan organik dikatakan sebagai pemasok zat hara yang dapat mempercepat pertumbuhan algae di tambak atau kolam. Jika suatu perairan banyak dihuni algae menunjukan perairan tersebut subur. Tanah yang subur akan mepengaruhi kesuburan perairan. Perairan tersebut dikatakan subur apabila di dalamya cukup bannyak mengandung unsur hara atau nutrien yang dapat mendukung kehidupan. Jenis tanah sangat berpengaruh terhadap suaatu kesubran suatu perairan, karena adanya kandungan unsur hara dan mineral dalam tanah yang mempengaruhi kesuburan perairan. Hal tersebut sesuai pendapat Suharjanti (2000), tanah yang banyak mengandung bahan organik dikatakan sebagai pemasok zat hara N dan P yang dapat mempercepat pertumbuhan algae di tambak atau kolam. Sedangkan algae merupakan indikator kesuburan suatu perairan.

4.9 Hubungan Pemupukan dan Kesuburan Perairan

Pemupukan yang dilakuakan di perairan bertujuan untuk menambah unsur-unsur hara organik atau anorganik kedalam perairan. Dalam jumlah besar dibutuhkan fitoplankton dalam pertumbuhhannya. Pemupukan berguna untuk memperbaiki kesuburan disuatu periaran dan pemupukan bermanfaat untuk meningkatkan unsur hara dalam suatu perairan. Hal tersebut sesui pendapat Subarijanti (2000), penambahan pupuk kekolam dalam ini maksudnya untuk meningkatkan atau mempercepat pertumbuhan fitoplankton (algae). Karena fitoplakton dalam pertumbuhan sangat membutuhkan nitrogen terutama dalam bentuk orto- fofat.

4.10 Hubungan Jenis Pupuk dengan Kelimpahan plankton

Pemupukan diperairan bertujuan untuk menambah zat organik dan anorganik yang dibuthkan oleh plankton untuk tumbuh dan hidup. Pupuk mampu mengembalikan unsur hara makro (N, P, dan K) yang mudah hilang. Jadi jika makanan dan kebutuhan hidup yang lain terpenuhi pertumbuhan dan perkembang biakan plankton dapat cepat. Hal tersebut sesuai pendapat Purwohadiyanto (2006), perkembangan dan perumbuhan algae akan meningkat jika digunakan ialah jenis pupuk yang tepat dalam arti seuai kebutuhan dosis pupuk yang tepat dan cara pemupukannya.

4.11 Aplikasi Ilmu tanah dalam Perairan

Jadi sangat diperlukan ilmu tanah untuk mengetahui cara mengolah tanah yang baik, tepat dan benar, serta mendapat hasail yang maksimal, Karena tanah yang digunakan untuk kegitan budidaya akan memberikan dampak pada kualitas air,organisme dan lain-lain. Tanah secara langsung atau tidak langsung mempunyai peran untuk mempengaruhi kondisi perairan. Jika kondisi tanah baik dan subur maka perairannya juga akan mengikuti. Misal tentang pH yang harus dijaga karena pH bisa sangat beracun bagi organisme yang kita budidayakan. PH tanah tak akan jauh beda dengan pH suatu perairan tersebut. Maka sangat diperlukan pengolah tanah yang baik dan benar agar tercipta ekosistem kolam atau tambak yang harmonis.

5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan

· Tanah adalah suatu benda berbentuk tiga dimensi tersusun dari mass padat, cair dangas dan gas yang terdapat di permukaan bumi, berasal dari pelapukan bantuan atau dekomposisi bahan organic.

· Jenis-jenis tanah: 1. Tanah hokum, 2. tanah pasir, 3.tanah alluvial, 4. tanah padzdit 5. TAH vulkanik 6, tanah latelit 7, tanah mediteran 8, tanah gambut.

· Fungsi tanah adalah tempat tumbuh dan berkembangnya perkara, penyediaan kebutuhan primer tanaman penyediakesuburan sekunder tanaman.

· Bobot isi adalah perbandingan antara berat suatumassa tanah dengan keadaan kering mutlak dengan volumenya.

· Faktor yang mempengaruhi bobot isi adalah pemadatan, komposisi bahan pengurainya, tingkat dekomposisi dan kadar air saat pengambilan sample.

· Bobot jenis adalah perbanding anantara massa satuan tanah dengan volume padatan pendudukan.

· Ruang pori tanah adalah bgian bagian dari tanah yang ditempuh air dan udara.

· Pada kelompok 5 pH tanah 6,7. pH perairan adalah 6,8,8,7. Do perairan 13,51 ppm, dan 5,20 ppm. Serta suhu adalah 23,50C, 260C, 260C, 280C.

· Nilai BI adalah 2,1010 gr/cm3, BI adalah 1,0745 gr/cm3, porositas total 48,88% dan kadar air massa adalah 0,505

· Bobot jenis ruang pori tanah dan bahan organik tanah sangat mempengaruhi porositas tanah jika porositas tinggi, maka bahan organik tinggi, kondisi ini mempengaruhi nilai.

· Hubungan tekstur tanah dan kapasitas tanah menahan air, jika tanah bertekstur liat, mempunyai luas permukaan yang lebih besarsehingga kemampuan menahan air dan menyediakan unsur hara tinggi.

· Hubungan pH tanah dengan kesuburan adalah pH tanah berkaitan dengan kesuburan tanah, sebab pH tanah menentukan kadar hara bagi suatu tanah. Sehingga ph tanah yang normal juga menyediakan banyak unsur hara dan tentu berpengaruh pada kesuburan.

· Hubungan jenis tanah dengan kesuburan peraiaran, Jadi jenis tanah yang tidak terlalu banyak mengandung pasir tergolong subursebab pada tanah pasir porositas tinggi sehingga unsur hara dan air tidak tertahan sempurna.

· Hubungan pemupukan dengaan kesuburan perairan adalah pemupukan berguna untuk memperbaiki suatu kesuburan perairan dan pemupukan bermanfaat untuk meningkatkan unsur hara yang ada di dalam tanah.

5.2. Saran

Diharapkan peralatan praktikum lebih dilengkapi supaya paraktikan tidak bergantian pada waktu memakai peralatan dan diharapkan tempat praktikum jangan terlalu jauh.


DAFTAR PUSTAKA

Acong. 2009. Kepulauan Lembu. www.acong.net.RHP. Diakses tanggal 30 Oktober 2010 pukul 19.00 WIB

Annas. 2007. Teknik Pembuatan Pupuk Organik “Bokhasi”. Https//: Insidewinnile.blogspot.com/2007/11/teknik_pembuatan_pupuk_organik_bokasi.html. Diakses 4 November 2010 pukul 15.00 WIB

Apridayanti, Eka. 2008. Evaluasi Pengolahan Lingkungan Perairan Waduk Luhur Kabupaten Malang Jawa Timur. Http//:www.eprints.undip.ac.id/17304/1/Eka_Apridayanti.pdf.

Diakses tanggal 4 November 2010 pukul 15.00 WIB

Boyd.1990.Water Quality In Dacor For Aqua Culture. Departement of Fishes’s Allice Aquaculture Auba. University Allabana

Dariah, Ai, H, subagyo, Lhendy Fatakronanto dan Setiani Narwanto. 2009. Kepekaan Tanah Terhadap Erosi. http://www.prakata.og.id. Diakses tanggal 4 November 2010 pukul 15.30

Djunaedi. Eka. 2000. Evaluasi Pengolahan Lingkungan Peraiaran Waduk Luhur Kabupaten Malang Jawa Timur. http://www.eprints.undip.ac.id/17305/1/Eko_Djunaedi.pdf. Diakses tanggal 4 November 2010 pukul 15.35 WIB

Goldman and Charle. 1983. Limnology. Mc Grow Hill Book Company.London

Hanafiah, Kemas Air. 2009. Dasar-dasar Ilmu Tanah. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta

Handayanto dan Hariah. 2007. Biologi Tanah Landasan Pengelolaan Tanah Sehat. Pustaka Adipura. Malang

Hardjowigeno, Surema. 2007. Ilmu Tanah. Hadimuka Pressindo. Bogor

Hartati dan Widowati. 2005. Pupuk Kandang. http://widowati.pupuk-kandang.pdf. Diakses tanggal 21 Oktober 2010 pukul 12.45 WIB

Horne dan Charles P Goldman. 1994. Limnology Second edition. Mc Grow Hill. Inc. New York

Husen, Ahmad. 2004. Metode Pengambilan Tanah. http://www.arch.soil.blogspot.com Diakses tanggal 6 November 2010 pukul 07.15 WIB

Jacob, Agustis. 2001. Metode dan Teknik Pengambilan Contoh Tanah Tanaman Dalam Mengevaluasi Status kesuburan Tanah. http://www.marsiotedi.multiply.com/Jurnal_ilmu_Kesuburan_tanah diakses pada 4 November 2010 pukul 15.20 WIB

Jumiati, Adhi. 2010. Metode Dan Teknik Pengambilan Contoh Tanah Dalam Menyusun Status Kesuburan Tanah. http://www.difika.blogspot.com/2010/100 Diakses tanggal 4 November 2010 pukul 15.00 WIB

Kordi, M Ghufron H.K dan Anas Baso Tancung. 2007 Pengolahan Kualitas Air Dalam Budidaya Perairan. Rineka Cipta. Indonesia

Lestari dan Edward Budiman.2004. Jenis Plankton Pelagis. http://www.Planktonholic.wordpress.com Diakses tanggal 5 November pukul 08.50 WIB

Majdid, Abdul. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com Diakses 4 November 2010 pukul 15.45 WIB

Marine Sciene Center. 2003. Plankton. http://Ck3p2.wordpress.com Diakses tanggal 4 November 2010 pukul 14.30 WIB

Muslihat, Uli. 2003. Teknik Pengukuran Bobot Isi Tanah Gambut Di Lapangan dan Laboratorium. http://www.pustaka_depter_go.id/publikasi/bt.082038.pdf.

Diakses tanggal 4 November 2010 pukul 15.45 WIB

Pemerintah Kabupaten Nunukan. 2004. Jenis Tanah. http://www.Nunukan.go.id/sekilas/detial/php?id.jenis.tanah.tanaman.alamiah.jadi. Diakses tanggal 4 November 2010 pukul 15.55 WIB

Pemerintak Kabupaten Balikpapan. 2009. Aplikasi Penentuan Tekstur Tanah http://www.situsresmiBalikpapan.ac.id Diakses tanggal 5 November 2010 pukul 15.05 WIB

Purwohadianto. 2006. Pemupukan dan Kesuburan Perairan Budidaya. Universitas Brawijaya Fakultas perikanan Jurusan Budidaya. Malang

Purniasari, Elok. 2005. Penentuan Bobot Jenis Tanah. http://www.purnia.knowledge.go.id Diakses tanggal 6 November 2010 pukul 16.41 WIB

Scribd. 2010. Hubungan Air Tanah dan Tanaman. http://www.scribd.com/doc/37677/88 hubungan-air-tanah-dan-tanaman-hampir-jadi Diakses tanggal 4 November 2010 pukul 14.15 WIB

Setiadi, Widjojo. 1986. Pengaruh Parameter Kimai Lingkungan Tehadap Distribusi Plankton Di Perairan Belitung. http://Journal.Sciences/plankton/pada/perairan/belitung.pdf. Diakses pada tanggal 5 November 2010 pukul 09.22 WIB

Sito, Kurnia.2009. Faktor Pengambilan Contoh Tanah. http://unwritten.wordpress.go.id Diakses 5 November 2010 pukul 09.22 WIB

SNI. 2008. Cara Uji Berat Jenis. http://www.doctoc.com/does/u17966944/cara-uji-bobot-jenis-tanah Diakses tanggal 4 November 2010 pukul 14.30 WIB

Subarijanti, Hermawati, Urmi. 2000. Pemupukan Kesuburan Perairan. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya. Malang

Sunarmi, Prapto, Sri Andayani, Purwohadiyanto. 2006. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Brawijaya. Malang

Sutanto, Rachman. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Kanisius. Jakarta

Suyanto, Rachmatan. 1984. Pemupukan Tambak Departemen Pertanian. Jakarta

Untan. 2008. Dasar-Dasar Ilmu tanah. http://syadiashare.com/tanah.html Diakses Tanggal 9 November 2010 pukul 14.30 WIB

Valarine. 2009. Penetapan Nitrogen Total. http://valarine.wordpress.com/penetapan-nitrogen-total-tanah. Diakses tanggal 4 November 2010 pukul 18.16 WIB

Webmaster.2004. Parameter Kimia_Fisika Tanah. http://webmaster.18/2004/06/28/Klakap/parameter-fisika-kimia-tanah.html Diakses pada tanggal 7 November 2010 pukul 16.00 WIB

Widjaya, Ismoko. 2004. Hubungan Komunikasi Fitoplankton dengan Produksi Udang Vannamei di Tambak Biotrib http ://www.iirc.ipb.ac.id.JSPWbitstroam/123456789/abstan.pdf.

Diakses 4 November 2010 pukul 16.18 WIB

Wiji,P,Rahayu. 2004. Pengambialan Contoh Tanah Untuk Analisa Fisik Kerapatan Lembak Ruang Pori Total dan Pengukuran Kekuatan Tanah. http://Khamandayu.Blogspot.com/2009/laporan-praktikum-ilmu-tanah.html Diakses tanggal 4 November 2010 pukul 16.00 WIB

Yusmandhani, Endang, Sudarmo. 2004. Kemampuan Potensial Tanah Menahan air Hujan Dan Aliran Permukaan Berdasarkan Tipe Penggunaan Luhur di Daerah Bogor Bagian Tengah. http://www.pustaki.dep.go.id/publikasi/blogspot/pat Diakses pada tanggal 4 November 2010 pukul 18.00 WIB

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar